Srimaulidarizki’s Blog


PERTEMUAN
16 Mei 2009, 13:49
Filed under: Uncategorized

Kususuri jalan – jalan sepanjang daerah termina angkot 02 di Sukasari. Tak ingin kukedipkan mata walau ‘tuk sekejam. “Ris… tolong pelankan sedikit, “kataku. Risa manut, dengan pelan bahkan terkesan tertahan – tahan dia menjalankan mobilnya. Kutatap satu persatu wajah – wajah preman yang bergelombol di sisi pintu masuk. Tidak ! Wajah – wajah itu terlalu seram untuk bisa kuidentifikasi. Ini terminal kedua yang kudatangi setelah terminal merdeka kami datangi tadi.

            “Ketemu ngak, Ky ? tanya Risa. “Maaf Ris, kamu sudah capek, ya ? “tanyaku was- was. Karena aku berharap bisa mengajaknya ke terminal Baranangsiang, terminal terakhir yang harus kukunjungi. “Hujan seperti ini akan susah menemukannya, Ky “Kata Aa. “Sudahlah, kalau Allah menghendaki, pada suatu saat kita akan bertemu dengannya” bujuk Aa pelan.

            Aku hanya terdiam dan tak bisa berkata apa – apa ketika Risa membelokkan mobilnya ke tol Jagorawi. Pupus sudah harapanku untuk bisa bertemu Iman adikku, setidaknya untuk hari ini. Dan aku harus sabar menunggu waktu yang  entah kapan lagi untuk kembali ke kota ini.

            Hampir 5 tahun berlalu sudah, Kota Bogor – Kota hujan kutinggalkan, setelah 4 tahun kota ini mengisi hari – hariku yang penuh perjuangan. Menempuh sebuah perjalanan sulit, demi menggapai rasa terpendam. Indah hari – hari kuliah, bertemu dosen – dosen dengan berbagai karakter dan menghabisi malam – malam dengan meja penuh tumpukan diklat yang hanya ditemani radio butut berban satu dengan lagu – lagu cengengnya.

            Tapi semua itu begitu indah untuk dilupakan. Apalagi puncak yang harus dilalui setiap mahasiswa yaitu ujian sidang. Perasaan bahagia tak bisa dibendung manakala sang dosen pembimbing mengumumkan. “Selamat, ya Anda lulus sebagai Sarjana Pertanian dengan nilai memuaskan.” Seolah 2 jam sebelumnya, disaat dosen – dosen penguji yang begitu gencar menanya berbagai pertanyaan yang harus mampu kita jawab tak ada artinya, bahkan rasa kesal dengan dosen yang begitu tega menanyakan kata – kata yang salah ketik atau cuma betanya letak sebuah koma, hilang seketika. Pantas sebuah sujud syukur kulakukan tanpa sungkan di hadapan Allah, toh ini takkan terjadi berkali – kali !

            Di kota ini jugalah aku bertemu Aa, suamiku tercinta. Waktu begitu cepat berlalu, dari wisuda, menikah dan aku diboyong begitu jauh di sebuah hutan di Propinsi Jambi. Dan sejak itu Kota Bogor hanyalah kenangan yang begitu apik kami simpan, hingga hari ini, kami harus datang lagi ke sini memenuhi undangan almamater.

            Dan saat ini pula seluruh kisah manis itu harus tercemari dengan pencarian tak berujung yang harus kulakukan demi adikku, Iman yang hilang di kota ini.

            Apakah kata – kata hilang cukup tepat untuk kasus ini ? Entahlah… Iman adalah adikku kedua, anak ke-7 dari 8 bersaudara. Tadinya Iman dan adik bungsuku, Utan adalah anak – anak yang tinggal bersama Ayah. Sementara kami kakak – kakaknya tersebar di seluruh pelosok Indonesia. Tapi begitu adik bungsuku tamat SMA, mereka berdua nekat merantau ke Jakarta dengan modal sebuah gitar. Jadilah mereka menjadi pengamen jalanan.

  1.             Kami tak bisa menyalahkan Ayah yang terlalu memanjakan mereka. Sehingga mereka tumbuh menjadi anak – anak nakal dan tak kuat dasar agamanya. Saat mereka masih kecil, Ibu sudah meninggalkan kami. Aku sendiri masih SMP waktu itu, namun aku sudah mengambil alih tanggungjawab sebagai kakak sekaligus Ibu bagi mereka. Pekerjaan rumah tangga yang begitu banyak, dari memberesi rumah, mencuci, menyetrika, berbelanja hingga memasak, telah menyita waktuku, belum lagi sekolah dan berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang harus kulalui, sehingga aku tak bisa memberi kasih sayang yang cukup bagi mereka. Sementara Ayah begitu pusing memenuhi tuntutan uang kuliah            kakak – kakakku yang masih kuliah semua, dengan mengajar les matematik di luar jam mengajarnya di sekolah.

            Selama 5 tahun aku bersama mereka, tak kulihat arah negatif dari pergaulan mereka. Karena aku cukup ketat mengisi waktu mereka dengan les, pengajian dan belajar. Tapi semua berubah begitu aku harus mulai kuliah, setidaknya itulah yang diceritakan Ayah pada setiap suratnya. Awalnya hanya nongkrong main gitar di pinggir jalan, lalu mulai keluar malam dan pulang dini hari, lalu ke luar malam dan tak pulang berhari – hari.

            Dan Iman semakin terjerumus dalam pergaulan anak nakal. Awalnya mungkin hanya sebatang rokok, seteguk minuman keras, lalu akhirnya dia jadi pecandu obat anjing gila. Ya Allah…. hatiku hancur mendengar semua itu, tak sanggup rasanya menghadapi kenyataan pahit yang menimpa adik – adikku itu. Sampai sempat kuberfikir untuk berhenti kuliah, agar bisa mengawasi mereka lagi. Tapi Ayah melarangnya. Beberapa saat aku sempat khilaf, marah pada Tuhan, mengapa begitu tega mengambil Ibu di saat kami masih membutuhkannya. Mungkin kalau Ibu masih ada, adik – adikku takkan sempat bergaul dengan kehidupan anak jalanan itu, mungkin kalau Ibu masih ada, hari – hari mereka akan terisi dengan keceriaan dan limpahan kasih sayang, andai Ibu masih ada mungkin……ini. Untunglah, aku tak sempat terlena dengan kemarahanku pada Tuhan. Bahkan aku pun sadar ini adalah cambuk begitu untuk belajar giat dan lulus secepatnya, karena aku masih punya janji yang harus kupenuhi di saat ajal akan menjelang Ibu, beliau memintaku untuk menyayangi adik – adikku, dan itu kuiyakan walau hanya dengan anggukan kepala.

            Dan janji itu pulalah yang membawaku kembali ke kota ini, setelah setahun berkelana, Utan kembali ke Ayah, tapi Iman benar – benar terlarut dalam hiruk pikuk kota. Walau hanya mengandalkan gitar dan suara, dia berjuang hidup, dan aku tak tahan mendengar cerita Utan yang  yang mengatakan Iman pun sudah terkenal sebagai preman Sukasari. Tapi apa dayaku, hutan Jambi begitu kuat mengikatku, hingga aku hanya bisa pasrah dan mendoakannya dari jauh. Orang pasti tak bisa membayangkan perasaan was – was dan ketakutanku ketika menonton acara patroli di satu – satunya siaran TV swasta yang bisa ditangkap di daerah kami. Aku takut menyaksikan preman – preman yang tertembak mati karena tertangkap melakukan kejahatan. Aku tak sanggup melihat mayat – mayat tanpa nama yang terbujur kaku di Rumah Sakit sana. Aku takut salah satu diantaranya adalah Iman adikku.

            Allah sungguh Maha Kuasa. Tatkala hasrat kami untuk kembali ke kota begitu menggebu, ada tawaran ikut proyek IPB ke Sopeng, dan Aa pun menerimanya. Untuk itu kami pun di boyong ke Tasikmalaya sampai waktu pemberangkatan Aa. Segala administrasi terpaksa dilakukan di Bogor, makanya untuk kedua kalinya aku dan Aa kembali menyuri jalan – jalan di Bogor.

            Pencarian ini begitu melelahkan, namun aku tak ingin mengeluh pada Aa. Ini adalah keinginanku, aku harus kuat melakukannya. Sepanjang jalan, aku berdo’a, “pertemukanlah aku dengan Iman, Ya Allah.” Tapi do’aku kali ini pun belum di dengar. Sengaja kami naik kendaraan umum ke Rambutan agar bisa dapat bis eksekutif ke Tasik. Dan sepanjang tol Jagorawi – Rambutan bergantian pengamen turun naik, mencoba mengais rezeki. Tak tega rasanya memberi uang receh pada mereka, di mataku terbayang Iman dengan suaranya yang pas – pasan mencoba merebut hati penumpang untuk memberi sekeping uang recehan. Setiap pengamen yang nyanyi kuberi seribu rupiah sambil berdo’a. “Ya Allah, semoga ada orang yang memberi seperti ini pada adikku, dimanapun ia berada.”

            Dua minggu berlalu sejak kami ke Bogor. Suatu siang di hari ulang tahun putriku yang kedua tahun, saat itu Mamah ( Ibu mertuaku ) sedang mengambil kain jemuran, karena gerimis memang sudah mulai turun. Mamah terdengar mengatakan, “ Maaf Mas !”, tapi si pengamen malah bertanya, “ Maaf Bu. Benar ini Lengkong Mulya ?”  ‘Benar’, Jawab Mamah. Terus si pengamen nanya lagi, “Nomor 53, rumahnya Pak Achmad Syamsudin ?” “Benar.” Jawab Mamah lagi. Apa yang sedang berada di dalam heran, kok mamah ngobrol sama pangamen ? Kuintip dari balik garden. Ya Allah, itu Iman adikku. Aku berlari membuka pintu dan berseru, “ Man, Iman…. Masuklah.” Mamah bingung, lalu Iman menyalaminya dan segera masuk. Aku menyambutnya begitu hangat.” Alhamdulillah, Ya Allah, engkau pertemukan juga aku dengan adikku.”

            Banyak yang berubah padanya. Bajunya kumal, menutupi tubuh kurusnya, matanya tirus, tulang pipinya menonjol membuat ia tua dalam usia belianya. Aku mengambilkan dia minum dan menawarinya makan. Tapi dia lebih memilih merokok di teras luar. Kala suara Adzan Ashar bergema, Iman mandi dan shalat Ashar, Subhanallah…. Aku tak tahu dia sudah mulai shalat, apa yang terjadi padanya ? Aku tak mau bertanya, karena aku ingin melihat dia yang sebenarnya. Hampir sejam dia berkurung di kamar, sesekali kuintip dia masih berzikir di atas sajadahnya.

            Malam itu, kami sempat berbincang, kata – kata yang keluar dari mulutnya benar – benar kutunggu, seolah itu kata – kata mutiara. Aku mulai bertanya di mana dia tinggal, di Cisarua katanya, pantesan ndak ketemu, habis nyarinya di Bogor sih…..

  1.             “Aku lagi berguru sekarang, kak. Beberapa bulan lalu aku sakit, kufikir saat itu ajal akan menjemputku. Kutelpon kak Eves, kak Rida dan bang Eri,                 ( kakak – kakakku ) tapi mereka tak peduli. Aku benar – benar takut dalam kesendirian dan kesengsaraan. Sampai di puncak rasa sakit itu, aku bernazar, andai aku masih diberi umur, aku ingin lebih dekat lagi pada Allah. Alhamdulillah aku bisa sembuh. Nazarkupun kulaksanakan. Aku mulai belajar pada sebuah padepokan. Di sana shalat dan dzikir wajib dilaksanakan sebagai upaya mendekatkan diri pada Allah. Lewat shalat, kami mencoba berbincang – bincang dengan Allah, menumpahkan perasaan, mengadukan permasalahan, dan lewat dzikir kami memujiNya, mengharap Dia peduli pada kami, lebih murah memberi karunia ilmu pada kami. Puasa senin – kamis sudah biasa kami lakukan. Begitu gampang, sebelumnya pun aku sudah biasa makan sekali sehari. Penghasilan ngamen harus kuirit untuk biaya sewa kamar dan keperluan lain,” katanya pelan sambil seolah fikirannya menerawang.
  2.                 “ Aku tak bisa hidup di antara aturan – aturan yang begitu mengikat. Aku ingin bebas, mengumpulkan keping – keping receh, benar – benar hasil keringat halal.” Katanya.” Tapi sampai kapan kau bisa bertahan, Man !” cecarku Dia diam membisu… lalu dipetiknya gitar kecilnya sambil bersenandung kecil. Lama aku menunggu, sampai dia berhenti, lalu kutanya,” Apakah kamu tidak ingin pulang ke Ayah ?”. “Belum… belum waktunya” jawabnya pelan. Hanya itu yang kudapat darinya saat itu, kuharap besok aku lebih berhasil lagi mengorek keterangan darinya.

            Malam itu aku susah memejamkan mata. Entahlah… apa karena kelelahan mengurusi syukuran ulang tahun anakku, apakah karena fikiranku yang terus tertuju pada Iman adikku. Rasanya baru mataku terpejam ketika terdengar Mamah sudah sibuk menjerang air di dapur. Segera kubangun, ternyata Iman pun sudah bangun bahkan sudah mandi. Begitu adzan shubuh dia masuk kamar, dan lampu kamar dimatikan.

            Hampir sejam kemudian, baru lampu kamarnya nyala, lalu terdengar dentingan gitar, nyanyi sendu sekali. Aku sempat terlarut mengikuti alunan lembut itu. Tak lama kamar dibuka, kusuruh Aa melihatnya. Ternyata dia sudah membawa gitar dan sepatunya. Berarti dia akan pulang. “Mau kemana, Man”. Kudengar Aa bertanya. “Mau pulang, bang” jawabnya. Aa langsung memanggil aku. Tergesa kupakai jilbab dan berlari ke teras. “Kok pagi nian, Man. Makan dululah. Atau ngopi atau kakak beli bubur sebentar.” Tahanku. “ Tak usah, kak. Aku pulang sekarang, saja.” Jawabnya. “Abang antar ke terminal ya” ajak Aa. “Tak usah, Bang.” Tolakny. Ya…..Allah…..secepat inikah pertemuanku dengannya ? Dia begitu misterius bagiku, kapan lagi aku bisa membuka teka – teki dirinya ?

            “Hati – hati ya, Man ! Jaga dirimu baik – baik. Andai ada kesulitan datanglah ke sini, kami akan menerimamu, atau setidaknya telponlah bila kau butuh bantuan kami. Ingat, aku kakakmu akan selalu menyayangimu. Kujabat tangannya sambil menyalamkan uang seratus ribu ke tangannya. Kulihat ada haru di matanya, seolah dia merasakan seberkas cinta yang sekian lama tak lagi dirasakannya. Tapi egonya sebagai lelaki terlalu kuat. Cepat – cepat dia bangkit dan berlalu, “Assalamu’alaikum,” katanya. Sambil berjalan ke luar pagar. “Waalaikum salam Wr. Wbr,” jawabku sendu.

            Kutatap dia di kejauhan, sosok kurus itu berjalan menunduk. Apa yang kau cari adikku ? Masih jauhkah angan yang ingin kau gapai ? Masih samarkah pelabuhan yang kau tuju ? Sekarang aku hanya bisa melanjutkan do’a – do’a panjangku seusai shalat….

  1. “Ya Allah….. lindungilah adikku Iman di mana pun dia berada. Berilah dia kehangatan saat malam – malam dingin menerpanya. Berilah dia kesejukan saat panas matahari terik menimpanya. Murahkanlah rezeki baginya, dan berkahlah usahanya untuk bertahan hidup. Bila dia sakit, kirimkanlah orang yang dapat menyembuhkannya. Peliharalah dia dari malapetaka dan tunjukilah hatinya untuk selalu berjalan di jalanMu. Adaikan kami masih bertemu, pertemukan kami dalam sebuah kebahagiaan dan andai tak mungkin lagi, jagalah hatinya agar tetap dalam iman. Ya Allah…. jagalah dia seperti Engkau menjaga utusanMu dari siksa, aniaya dan dosa. Hanya padaMu aku bermohon, semoga Engkau dengar permohonanku ini, Amin.”     

Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.