Srimaulidarizki’s Blog


Dari cerita guru berprestasi.

Sore itu, aku pulang dari sekolah tempat aku mengajar, dengan suasana sore yang mulai gelap. Bergegas ku buka kunci pagar rumahku, dan seperti biasa urutan aktifitas telah menungguku. Mulai dari mengangkati jemuran, melipat kain-kain yangh berhasil kucuci menjelang keberangkatanku ke sekolah pagi tadi, menuju ruang makan, sambil membereskan alat-alat makan yang kami pakai tadi pagi, kemudian mulai menyiapkan makan malam sambil mengumpulkan cucian yang akan kucuci sambil aku mandi nanti. Biasanya tak berapa lama, anaka-anakku akan datang . Ada yang sambil manyun, yaitu si bungsu. Dan ada yang kelihatan mencoba tetap gembira walau aku tahu dengan sekolah fullday dan segudang aktifitasnya, saat sore seperti ini, tak mungkin tidak, capek akan mendera. Tapi aku tahu, dia merasa bertanggungjawab sebagai kakak, dan biasanya ketika pintu mobil papap terbuka si bungsu lari menyelonong keluar dan sulungku akan tertatih sambil membawa tiga tas besar :tas sekolahnya,tas sekolah adiknya dan tempat mukenahnya.Masak aku kalah dari si sulung. Dan biasa si bungsu akan minta gendong sambil terus memelukku dengan erat. Kadang aku fikir wajar, karena intensitas pertemuan yang sangat minim, tapi di sudut lain kufikir itu tidak lagi wajar, manakala di usianya yang ke-5 dia masih manja bergelayut seoperti anak usia balita pada umumnya. Lalu berbagai celoteh tentang kejadian hari itu akan susul menyusul dari mulut mereka, dan akupun akan berupaya membujuk mereka untuk segera membersihkan badan agar bisa cepat beristirahat. Aktifitas panjangku akan berhenti sesaat sebelum magrib, dan pada saat yang sama tugas barupun muncul seiring munculnya Aa suamiku. Akupun bercerita tentang pengumuman yang disampaikan oleh kepala sekolah kami tadi siang tentang terpilihnya salah seorang rekan menjadi guru berprestasi. Namun bukan reaksi seperti itu yang ingin kudengar, manakala dengan santai aa membalas” Wajar atuh, dia kan tidak punya tanggungan, tidak perlu ngurusin anak, suami” Tapi nada sedikit sewot membuatku tidak melajutkn pembicaraan itu, mungkin aa capek.
Malam seperti biasa, ketika si kecil sudah terlelap setelah mendengar satu judul cerita dari buku pavoritnya yaitu Al Quran dan tafsiran kisahnya. maka akupun mulai mempersiapkan aktifitas malamku. Mulai dari mengetik soal, atau mengoreksi ulangan siswaku, atau sekedar membuat RPP. Kadang akupun harus membuat tugas -tugas dalam kepanitiaan yang aku tangani saat itu. Dan sesaat setelah subuh, akupun mencoba mengistirahatkan badanku untuk bisa bersiap memulai aktifitas baru di hari baru. Mungkin wajar, ketika Aa berkomentar seperti itu; Bila aku telaah lagi, alangkah naifnya apabila dalam sebuah pemilihan yang begitu besar maknanya, tapi dalam penentuan kriterianya begitu dangkal! Mengapa tidak? Apakah peninjauan prestasi itu hanya dari segi aktifitas utuh di sekolah saja, sementara aktifitas masyarakat terabaikan. Memang, rekan saya itu di usia yang menginjak 41 tahun belum juga menggenapkan agamanya
Dan bukan tanpa sebab dia begitu memfokuskan diri menjadi guru, yang rela menggunakan kalau perlu seluruh waktunya di sekolah, karena alasan menghabiskan waktu. Dan salahkah apabila saya sebut sangat tidak adil, manakala dalam penentuannyapun sekolah tidak pernah melihat aktifitas soasial masyarakat yang seharusnya menjadi sebuah titik penilaian. Mungkin kita harus berkaca pada sebuah award yang rutin diadakan oleh sebuah majalah muslimah di mana pada setiap tahun award diadakan syarat itu selalu tercantum: minimal memilki 2 orang anak, diajukan oleh masyarakat yang bukan keluarga dan mendapat persetujuan dari pihak yang diajukan. Dan dalam penentuan juara si peserta benar-benar dinilai dari semua aspek. Wong namanya Award ya mesti award juga kriterianya. Sehingga tidak ada yang melihat dengan sebelah mata apabila ada ketimpangan dalam kriteria yang ada.
Mungkin inilah cermin sifat yang masih tebal di negara kita yang nota bene begitu asih dan saling menghormati. Seorang ketua, selalu berharap kerja maksimal anak buahnya tanpa perduli bagaimana latar belakang yang dikorbankan anak buahnya untuk bisa mencapai hasil itu. Berkaca pada diri sendiri, mungkin inilah yang kulakukan: saat ini mungkin banyak sekali wanita karier yang begitu bahagia atas prestasi kerja yang dicapainya, pretise yang diterima dan sejuta penghargaan yang dikalungkan. Jangan salah, akupun begitu bahagia, dengan prestasiku dapat membimbing anak-anakku , mennuntun setiap detil langkah mereka pada kebenaran,akupun akan terkagum,atas prestasi mereka di sekolah yang begitu membanggakan, presti sebutan ibu oleh anak-anakku, bahkan terkadang aku hampir takabur, manakala aku sering merasa begitu spesial karena di sela kesibukanku menjadi guru di sekolah fullday school,akupun tercatat sebagai pengurus pengajian di tempat tinggalku, akupun membina anak-anak liqoan yang remaja serta tak jarang akupun diundang menjadi juri beberapa lomba yang diadakan di sekolah anak-anakku. harusnya, sebutanku bisa menjadi super mom, siapa yang tidak setuju?


Tinggalkan sebuah Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.